Chapter 1
Introduction Part-1
Mukadimah dan Doa Pembuka
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَبَرَكَاتُهُ.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan [1], Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah [2], Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia [3], Yang mengajar (manusia) dengan pena [4], Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya [5]. (QS 096_Al ‘Alaq : ayat 1-5).
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ.
Memahami Konteks Wahyu Pertama
Hari ini, kita akan mencoba menyelami dan memahami dengan lebih baik سُوْرَة ke-96 di dalam Al-Qur`an, yaitu سُوْرَة الْعَلَق, yang juga dikenal luas sebagai سُوْرَة اقْرَأْ. Di dalam tradisi keilmuan Islam, turunnya wahyu pertama ini diabadikan dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur, yang dicatat oleh Kitab sahih Al-Imam Al-Bukhari beserta para ulama ahli hadits lainnya.
Tugas kita pada kesempatan kali ini bukan sekadar mempelajari ayat-ayat dalam سُوْرَة tersebut, melainkan mengkaji riwayat yang sangat masyhur dalam kitab Hadits Al-Bukhari yang menggambarkan secara detail bagaimana peristiwa turunnya wahyu ini terjadi. Saya ingin membagikan sebuah formula atau kerangka berpikir khusus terkait studi أَسْبَابُ النُّزُولِ (konteks atau sebab turunnya wahyu), yang sejauh ini membuat saya sangat yakin akan validitasnya.
Hubungan antara أَسْبَابُ النُّزُولِ dan wahyu adalah hubungan dua arah. Sering kali, kita membaca penjelasan bahwa,"Sebuah آيَة turun pada peristiwa tertentu". Kerangka berpikir yang umum kita gunakan adalah: kita harus mempelajari peristiwanya terlebih dahulu agar bisa memahami makna سُوْرَة tersebut. Tentu, ada kebenaran dalam pendekatan ini, memahami peristiwa yang terjadi sangatlah penting karena hal itu akan memberikan titik terang pada ayat-ayat yang sedang kita pelajari.
Namun, saya meyakini bahwa kebalikannya justru jauh lebih benar :Anda tidak akan bisa benar-benar memahami sebuah peristiwa sejarah, sampai Anda memahami bagaimana ayat-ayat Al-Qur`an fokus menyoroti dan menjelaskan peristiwa tersebut.
Mari kita gunakan sebuah analogi untuk memahami hal ini:
Allahﷻ menyebut Al-Qur`an sebagai نُوْر (cahaya).
Karakteristik نُوْر (cahaya) adalah ia tidak membutuhkan apapun yang lain untuk menerangi dirinya; sebaliknya, نُوْر (cahaya) justru berfungsi menerangi segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Bayangkan sebuah skenario di mana semua orang sedang kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Lalu, Al-Qur`an hadir dan menyorotkan cahayanya untuk memberikan panduan tentang apa yang harus dilakukan.
Kita tidak akan bisa memahami keagungan Al-Qur`an dengan lebih baik (hanya dengan melihat konteks), melainkan, pemahaman kita terhadap konteks kehidupan Rasulullahﷺ justru akan berubah dan menjadi lebih terang berkat kacamata Al-Qur`an.
Sebagai contoh , perhatikanlah سُوْرَة الْفَتْح atau سُوْرَة الْكَوْثَر. Ketika Rasulullahﷺ kehilangan anak yang sangat beliau cintai, ketika beliau harus mendengar kata-kata yang paling menyakitkan bahkan dari anggota keluarganya sendiri seperti Abu Lahab, itu adalah masa-masa terburuk dan paling menyedihkan bagi Rasulullahﷺ. Di tengah kondisi yang memicu depresi, kesedihan, dan luka batin yang mendalam itu, Allahﷻ memberikan sebuah سُوْرَة yang dirancang untuk mengisi hati beliau dengan kebahagiaan dan kedamaian dengan Fiman-Nya :
(٣)إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ(١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak[1], Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)[2], Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah) [3].
Perhatikan bagaimana سُوْرَة ini merespons masalah secara langsung:
Untuk mengobati hati beliau yang sedang hancur, Allah mengaruniakan pemberian hadiah berupaAl-Kautsar, lalu memerintahkan beliau untuk merayakannya seolah-olah itu adalah hari raya 'Id — dengan mendirikan shalat dan menyembelih hewan kurban (فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ).
Sedangkan untuk masalah utamanya (orang-orang yang menyakiti beliau), Allah menyelesaikannya di آيَة ketiga: إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ,"Sesungguhnya pembencimu dialah yang terputus."Jangan pedulikan hal itu, karena masalah itu sudah diselesaikan oleh Allah.
Dengan kata lain, Al-Qur`an telah mengubah cara pandang dan persepsi terhadap realitas yang sedang terjadi di hadapan beliau. Inilah yang terjadi, Al-Qur`an mampu mengubah persepsi Anda.
Analogi modernnya adalah, seperti peristiwa yang disiarkan di seluruh dunia. Kita mengetahui sebuah kejadian melalui media berita atau komentar para jurnalis media elektronik. Kamera merekam peristiwanya, tetapi para komentator berita inilah yang membantu Anda "mengisi celah" dan membentuk narasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dalam sejarah kehidupan Rasulullah ﷺ, peristiwa-peristiwa terjadi di depan mata, namunAl-Qur`an-lah yang bertindak sebagai komentator utama yang memberikan cahaya dan makna yang sebenarnya atas peristiwa-peristiwa tersebut.
Karena itu, saat kita mempelajari sebuah riwayat panjang yang luar biasa ini, saya akan menjelaskannya frasa demi frasa agar kita dapat benar-benar menghargai narasi agung dari 'Aisyah أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا.
Pada akhirnya, kita akan mencoba memahami hubungan antara pengalaman spiritual Rasulullahﷺ dengan bagaimana turunnya wahyu pertama ini menyoroti dan menjawab pengalaman-pengalaman tersebut.
Sanad Riwayat dan Awal Mula Datangnya Wahyu
Mari kita bedah riwayat dari Al-Bukhari ini. Rantai sanad (transmisi riwayat) dalam hadits ini adalah sebagai berikut:
Diriwayatkan kepada kami oleh Yahya bin Bukair.
Beliau berkata, diriwayatkan kepada kami oleh Al-Laits.
Dari 'Uqail.
Dari Ibnu Syihab.
Dari 'Urwah bin Az-Zubair.
Dari 'Aisyah أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا.
'Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا menceritakan:
أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ
"Awal mula wahyu yang diturunkan kepada Rasulullahﷺdimulai dengan mimpi-mimpi yang baik dan benar(الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ) di dalam tidur beliau."
Hal pertama yang mulai terjadi di luar kebiasaan pada diri Rasulullahﷺ adalah beliau terus-menerus melihat mimpi-mimpi yang baik dan menenangkan. Beliau tidak melihat mimpi buruk, melainkan pengalaman-pengalaman spiritual berupa mimpi yang menentramkan jiwa.
Kemudian, 'Aisyah melanjutkan,
فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ
"Maka tidaklah beliau melihat sebuah mimpi, melainkan mimpi itu datang (menjadi kenyataan) seperti terangnya fajar di pagi hari."
Setiap fenomena spiritual dalam tidur beliau, terwujud menjadi kenyataan dengan sangat gamblang. 'Aisyah menggunakan istilah فَلَقِ الصُّبْحِ (terbelahnya / terbitnya waktu subuh). Ini sama persis dengan ungkapan peribahasa dalam bahasa Inggris yang menyebut"Clear as day"(sejelas terangnya hari). Apa yang beliau lihat di dalam mimpi, benar-benar terjadi di kehidupan nyata tepat di depan mata beliau.
Kerinduan pada Kesunyian dan Analisis Linguistikتَحَنُّث
Seiring dengan intensitas pengalaman spiritual yang semakin mendalam ini, terjadi sebuah perubahan besar pada diri Rasulullah ﷺ.
ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ
"Kemudian, ditanamkan ke dalam diri beliau rasa cinta untuk menyendiri (mengasingkan diri)."
Perhatikan kata حُبِّبَ (dijadikan mencintai/ditanamkan rasa cinta) yang berbentuk pasif. Cinta untuk menyendiri ini seolah-olah disuntikkan atau dianugerahkan langsung ke dalam relung hati beliau. Keinginan yang sangat kuat untuk berada dalam kesendirian ini adalah sesuatu yang beliau rasakan dengan sangat mendesak.
Di mana beliau mengasingkan diri?
وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ"Dan beliau biasa menyendiri di Gua Hira."
Gua Hira terletak di pinggiran kota Makkah, tinggi di atas sebuah gunung, di mana dari kejauhan, seseorang bisa melihat keseluruhan kota. Gua ini bukanlah tempat yang nyaman untuk ditinggali; ini murni tempat bagi seseorang yang secara harfiah ingin menjauhi keramaian dan memisahkan diri dari semua orang.
Lalu, apa yang beliau kerjakan di dalam gua tersebut? 'Aisyah menggunakan sebuah kosakata yang sangat spesifik dan luar biasa:
فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ"Maka beliau melakukanتَحَنَّثُdi dalamnya."
Mari kita lakukan pembedahan linguistik (Morphological / Sharaf analysis) terhadap kata تَحَنُّث ini:
Akar Kata تَحَنُّث berasal dari kata حِنْث. Dalam leksikon bahasa Arab kuno, حِنْث bermakna dosa yang sangat besar dan berat (grave or heavy sin).
Pola Kata (Wazan) dari kata تَحَنُّث ini dimasukkan ke dalam pola تَفَعُّل. Dalam ilmu bahasa Arab, jika sebuah akar kata dimasukkan ke dalam pola تَفَعُّل, maknanya bisa berubah menjadi kebalikannya; yaitu berupaya untuk menjauh dari makna akar katanya.
Makna Terminologi kata تَحَنُّث adalah mengasingkan atau menjauhkan diri secara sadar dari dosa-dosa yang besar.
Hal ini menjadi sebuah interpretasi yang sangat kuat terhadap realitas Makkah saat itu. Ketika Rasulullahﷺ berada di tengah masyarakat Makkah, beliau menyaksikan tindakan-tindakan kriminal dan perilaku korup setiap harinya. Beliau melihat kejahatan spiritual dan dosa-dosa besar yang mengelilingi masyarakatnya secara terus-menerus. Hal ini sangat mengganggu dan menyiksa batin beliau, hingga mencapai titik di mana beliau sangat ingin memisahkan diri dari masyarakat korup tersebut dan hanya ingin sendirian. Beliau ingin menjauh dari kejahatan kemanusiaan dan kejahatan spiritual yang terjadi di depan matanya. Inilah motivasi utama beliau naik ke Gunung Hira: untuk lari dari dosa (تَحَنُّث).
Makna Alternatif yang Mendalam :
Selain makna di atas, terdapat makna linguistik kedua. Para ulama bahasa Arab klasik menyadari bahwa dalam bahasa Arab kuno, huruf ث (tsa) dan ف (fa) sering kali dapat saling dipertukarkan penggunaannya. Sebagian mufassir dan pakar bahasa menafsirkan bahwa فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ juga bisa dibaca sebagai فَيَتَحَنَّفُ فِيهِ.
Kata ini berasal dari akar kata حَنِيْف, yang maknanya adalah seseorang yang fokus sepenuhnya hanya kepada Allah dan berpaling dari kesyirikan. Jika dimaknai demikian, maka tujuan Rasulullahﷺ menyendiri di Gua Hira adalah untuk fokus mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan, menumpukan seluruh perhatiannya kepada Allah, dan menjauh dari segala bentuk penyembahan selain-Nya.
Dua hal fundamental inilah yang mendominasi batin Rasulullahﷺ. saat itu:
menjauh dari masyarakat yang rusak secara moral (تَحَنُّث) dan peradaban.
merasakan kerinduan yang mendalam untuk mendekatkan diri dan mencari Tuhan yang sejati (تَحَنُّف).
Insya Allah, pada sesi berikutnya, kita akan membahas lebih dalam bagaimana wahyu Allah (Al-Qur`an) datang dan secara brilian memberikan pencerahan atas kegelisahan batin dan pengalaman-pengalaman spiritual yang sedang dialami oleh kekasih Allah, Muhammad Rasulullah ﷺ
Memperdalam Makna تَحَنُّث dan Pencarian Nilai Spiritual
Sebagian mufassir menafsirkan kata يَتَحَنَّثُ فِيهِ sebagai يَتَعَبَّدُ فِيهِ atau juga يَتَحَنَّفُ فِيهِ. Maknanya, beliau hanya ingin menyendiri dan memusatkan seluruh perhatiannya secara eksklusif kepada Allah semata. Pada intinya, beliau ingin mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Beliau benar-benar fokus sepenuhnya. Ini adalah juga sifat dari Nabi إِبْرَاهِيم عَلَيْهِ السَّلَامُ, bahwa beliau adalah seorang حَنِيْف. Jadi, salah satu cara membaca dan memahami kata ini adalah يَتَحَنَّفُ, yang berarti beliau berusaha untuk menjadi حَنِيْف, yakni beliau sedang berusaha secara eksklusif untuk menemukan jati dirinya.
Ini adalah cara pandang yang sangat indah terhadap kata khusus ini, karena hal itu mengaitkan Rasulullahﷺ dengan Nabi إِبْرَاهِيم عَلَيْهِ السَّلَامُ dan juga dengan kota Makkah itu sendiri. Kota Makkah adalah kota yang didirikan oleh bapak beliau, yakni Nabi إِبْرَاهِيم عَلَيْهِ السَّلَامُ.
Kemudian pada akhirnya, تَحَنَّثَ juga bermakna membersihkan dosa-dosa dari diri Anda dan menenggelamkan diri Anda ke dalam ibadah. Beliau merasa seolah-olah dirinya hampir tercemar oleh lingkungan sekitarnya, sehingga beliau hanya ingin membersihkan diri dan melibatkan diri dalam ibadah serta perenungan sebaik yang beliau bisa lakukan. Beliau tidak bisa menemukan bentuk ibadah murni di kota Makkah yang telah rusak, yang saat itu dikelilingi oleh berhala dan segala bentuk kejahilan dan segala tindakan kejahatan. Oleh karena itu, beliau menyendiri untuk mencoba menemukannya. وَهُوَ التَّعَبُّدُ (Dan itu adalah beribadah).
Pengasingan di غَارِ حِرَاءٍ dan Turunnya Al-Qur`an
Di dalam riwayat tersebut, 'Aisyah رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا melanjutkan penjelasannya:
اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ
"Selama beberapa malam secara berurutan (berturut-turut)",Beliau menghabiskan waktu malam di sana, beberapa malam berturut-turut, sendirian saja di dalam gua.
قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ
"Sebelum beliau merasa ditarik kembali menuju keluarganya."
وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ
"Dan beliau membawa perbekalan untuk itu."
ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ
"Kemudian beliau kembali kepada Khadijah."Jadi, beliau akan pulang karena merasa ditarik kepada keluarganya, menghabiskan sedikit waktu di sana, lalu kembali kepada خَدِيجَة رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا.
فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا
"Lalu beliau menyiapkan perbekalan lagi untuk hal yang sama."Beliau mengemas barang-barang kembali agar bisa kembali ke gua selama beberapa hari lagi. Beliau mengambil perbekalan sekadar untuk bertahan hidup di atas sana, di dalam gua Hira, lalu beliau akan kembali ke atas. Beliau pulang hanya untuk mengemas ulang, pada dasarnya mengisi ulang perbekalan, lalu langsung kembali naik ke atas gunung.
Hal ini terus berlangsung : حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ"Sampai Kebenaran (Al-Haqq) datang kepada beliau."
Tentu saja, ungkapan"Kebenaran datang kepada beliau"di sini adalah cara 'Aisyah رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا untuk mengatakan bahwa Al-Qur`an datang kepada beliau. Anda akan menemukan dalam tafsir dari beberapa sahabat bahwa mereka menyebut kata Al-Qur`an dengan 'Kebenaran' (حَقّ). Dan ini merupakan sesuatu yang sangat menyingkap realitas bagi mereka, karena para sahabat menyadari bahwa segala sesuatu selain Al-Qur`an adalah kebatilan. Segala hal lain yang mengelilingi mereka adalah kepalsuan, sedangkan Al-Qur`an membelah semua kepalsuan itu serta memberi mereka kejelasan yang haq (حَقّ). Sehingga, secara harfiah dengan penuh cinta dan kesetiaan kepada Al-Qur`an, mereka menyebutnya sebagai Kebenaran (حَقّ).
Hal ini juga menjelaskan cara pandang / pemikiran (Mindset)seperti apa yang diharapkan dari seorang Muslim ketika ia mendengar firman Allahﷻ.Mindsetkita haruslah menyingkirkan segala bentuk kritik dari pemikiran kita; kita harus membuang pikiran seperti,"Saya tidak yakin apakah ini adalah sesuatu yang bisa saya ikuti atau tidak."Hal pertama yang harus tertanam di kepala Anda saat Anda berusaha menginternalisasi firman Allahﷻ adalah:
Ini adalah Kebenaran yang حَقّ. Dan inilah sikap yang benar untuk dilakukan.
Kata حَقّ juga memiliki beberapa lapis makna. Kata ini tidak hanya berarti 'kebenaran' secara faktual, tetapi juga berarti sesuatu yang berhak, adil, atau bermoral (rightful). Ini berarti, apa yang diucapkan itu tidak hanya sekadar benar (true), melainkan juga tepat (correct / valid) dan itulah hal yang seharusnya dilakukan.
Perjumpaan dengan Malaikat dan Tiga Dekapan Kuat
Dalam riwayat tersebut, 'Aisyah رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا mengatakan:
حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ. وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ"Sampai Kebenaran datang kepada beliau, saat beliau sedang berada di غَارِ حِرَاءٍ (Gua Hira)."
فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ"Maka Malaikat datang kepada beliau dan berkata: Bacalah!"
Sebagai catatan, kata اقْرَأْ dalam bahasa Arab di konteks ini juga bermakna"ikutilah bacaanku", yang bermakna"Aku akan membaca, dan engkau bacalah setelahku."Itulah implikasi makna yang terjadi di sini.
قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ"Rasulullahﷺberkata: Aku bukanlah seseorang yang bisa (pernah) membaca."
Kalimat مَا أَنَا بِقَارِئٍ ini memiliki beberapa lapisan makna:
"Aku tidak bisa membaca sama sekali", ini adalah salah satu cara yang paling umum untuk menerjemahkannya.
"Aku belum pernah membaca, aku bukan seorang pembaca. Aku tidak pernah menjadi seorang pembaca", ini adalah cara penerjemahan lainnya.
Kemudian Rasulullahﷺ menceritakan pengalaman spiritual yang sangat dahsyat tersebut:
فَأَخَذَنِي"Maka ia (Malaikat) menangkapku."
فَغَطَّنِي"Lalu ia mendekapku."Malaikat memeluk beliau, dan mendekap beliau sepenuhnya.
حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ"Sampai ia membuatku sangat kelelahan hingga ke titik di mana aku tidak bisa lebih lelah lagi."Secara fisik, Malaikat itu benar-benar menguras seluruh tenaga Rasulullahﷺ lewat cara ia mendekap beliau di dalam pelukannya.
ثُمَّ أَرْسَلَنِي"Kemudian ia melepaskanku."Sebagian ulama memberikan komentar mengenai peristiwa ini, bahwa itu adalah semacam momen transfer dari hati ke hati. Malaikat itu datang dalam wujud apa pun saat itu, dada mereka saling bersentuhan, dan ada semacam perpindahan spiritual yang terjadi di antara keduanya, Allahu A'lam. Malaikat memegang beliau dengan sangat erat, lalu melepaskannya.
Kemudian Malaikat itu berkata lagi: اقْرَأْ"Bacalah!"
قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ"Aku berkata kepadanya: Aku bukanlah seseorang yang bisa membaca."
فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ"Maka ia menangkapku, memelukku, dan mendekapku lagi sepenuhnya untuk kedua kalinya."
حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ"Sampai aku tidak sanggup lagi. Sampai aku tidak mampu menanggungnya lebih dari itu."
Lalu Malaikat melepaskan beliau: ثُمَّ أَرْسَلَنِي.
فَقَالَ اقْرَأْ"Kemudian ia berkata lagi: Bacalah!"
فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ"Maka aku katakan: Aku tidak bisa membaca, aku tidak tahu caranya."
فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ"Lalu ia menangkapku lagi dan mendekapku lagi untuk ketiga kalinya."Setelah dekapan ketiga yang menguras tenaga itu, Malaikat pun kembali melepaskanku.
Wahyu Pertama dan Guncangan Hati Sang Nabi
Setelah melepaskan dekapan ketiganya, Malaikat Jibril menyampaikan firman Allahﷻ:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ"Bacalah (lantunkanlah) dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan."
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ"Dia menciptakan manusia dari sesuatu yang menggantung, atau sesuatu yang melekat menempel (bergelantungan)."
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ"Bacalah (lantunkanlah), dan Rabb-mu adalah Yang Maha Mulia dan Paling Bermartabat."(QS 096_Al-'Alaq: 1-3).
Sebagai catatan yang penting untuk diketahui, di dalam narasi riwayat Al-Bukhari tersebut, ayat yang disebutkan secara eksplisit memang hanya sampai di situ: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. Narasi aslinya tidak menyertakan kelanjutan ayatnya, yaitu: الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ"Yang mengajar (manusia) dengan pena."عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak mungkin diketahuinya sendiri."(QS 096_Al-'Alaq: 4-5).
Kelanjutan ayat tersebut tidak tercantum dalam redaksi hadits. Namun, bagian itu tidak harus selalu dicantumkan untuk dapat dipahami sebagai bagian utuh dari riwayat yang sama. Sama halnya saat Anda berkata," Alam Nasrah Laka Sadrak dan Wa Wada'na 'Anka Wizrak dll. turun pada waktu ini". Idenya adalah Anda tidak selalu harus membaca keseluruhan surah tersebut, karena Anda sedang merujuk kepadanya. Jadi, penyebutan beberapa ayat awal ini adalah sebuah rujukan (reference) ke wahyu yang turun, bukan keharusan untuk menyebutkan seluruh ayat yang diturunkan pada saat itu.
Setelah menerima wahyu agung tersebut: فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"Maka Rasulullahﷺkembali pulang dengan membawa ayat-ayat itu (kata-kata yang diberikan kepadanya)."
Dalam kondisi perjalanan pulang itu, dada beliau bergemuruh amat keras. يَرْجُفُ فُؤَادُهُ(Hatinya bergetar hebat/bergemuruh).
Anda tentu ingat firman Allahﷻ
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ
Pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam semesta, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua – (QS 079_An-Nazi'at: 6-7).
Kita pernah membaca kata-kata ini dalam pelajaran sebelumnya. Kata tersebut menggambarkan sebuah goncangan atau getaran yang sangat hebat. Begitulah keadaan beliau; dada beliau bergemuruh hebat, hatinya terguncang.
Dan kata فُؤَاد juga merupakan sebuah kosakata yang sangat menarik secara linguistik. Kata ini secara spesifik digunakan ketika Anda sedang bersemangat, panik, atau emosional. Sehingga, jantung beliau yang terpacu itu berdebar-debar tanpa henti, dan dada beliau berdetak sangat keras.
فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا"Lalu beliau masuk ke dalam rumah dan menemuiخَدِيجَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا, Begitu bertemu dengan sang istri tercinta خَدِيجَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا , beliau berseru: فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي,lalu beliau berkata: Selimuti aku, selimuti aku!"Cukup tutup tubuhku dengan selimut, tutupi aku. Beliau bersikap seolah-olah sedang menggigil kedinginan dan hanya ingin segera diselimuti.
فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ"Makaخَدِيجَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَاmenyelimutinya, sampai rasa takut (syok) akibat apa yang baru saja terjadi padanya itu perlahan menghilang darinya.Setelah diselimuti, barulah Rasulullahﷺ menjadi sedikit lebih tenang.
To be continued in Part 2.
……… Kepulangan Rasulullahﷺdan Dialog dengan Khadijah