Gema اقْرَأْ, Wahyu Ilahi yang Mengguncang Semesta Jiwa

Bab 1

Part 1

Introduction


الـسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. فَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ، آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


Metodologi Memahami Konteks Wahyu(أَسْبَابُ النُّزُولِ)

Kita akan mencoba memahami سُورَةُ الْعَلَقِ , Surah nomor 96 dengan lebih baik, surah سُورَةُ الْعَلَقِ juga dikenal sebagai سُورَةُ اقْرَأْ. Berdasarkan riwayat Imam اَلْبُخَارِيُّ dan beberapa riwayat lainnya, bagian awal dari surah ini dikenal luas sebagai wahyu pertama yang diberikan kepada Rasulullahﷺ.

Tugas kita hari ini sebenarnya bukan berfokus pada mempelajari surah itu sendiri secara langsung, melainkan mempelajari narasi terkenal dalam riwat Imam اَلْبُخَارِيُّ yang menggambarkan proses turunnya wahyu ini. Saya juga ingin berbagi dengan Anda sebuah formula khusus dalam mempelajari أَسْبَابُ النُّزُولِ (konteks turunnya wahyu) yang menurut saya sangat meyakinkan. Ada hubungan dua arah antara konteks (سَبَبٌ) dan wahyu itu sendiri.

Seringkali Anda membaca bahwa "ayat ini turun pada kejadian ini dan itu" atau "surah ini turun pada kesempatan tertentu". Biasanya, mentalitas yang kita miliki adalah :  kita tidak akan bisa memahami wahyu secara akurat kecuali, kita mengetahui konteks saat wahyu itu turun. Memahami kejadian tersebut dianggap sangat penting karena akan memberikan cahaya pada ayat-ayat yang sedang kita coba pahami. Memang ada benarnya, namun saya merasa ada kebenaran yang jauh lebih besar jika kita membalikkan persamaan tersebut.

Al-Qur'an Sebagaiنُورٌ(Cahaya) yang Menyinari Sejarah

Persamaan yang terbalik itu adalah:

Anda akan kesulitan memahami suatu kejadian (sejarah) sampai Anda memahami apa yang dilakukan ayat-ayat tersebut untuk menyinari kejadian itu.

Ada alasan mengapa Allah menyebut اَلْقُرْآنُ sebagai نُورٌ (Cahaya).

Anda tidak menyinari cahaya, tetapi Cahayalah yang menyinari segalanya.

Bayangkan sebuah skenario di mana semua orang bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, lalu اَلْقُرْآنُ datang dan memberikan Cahaya tentang apa yang harus dilakukan. Jadi, sebenarnya bukan sekadar kita memahami اَلْقُرْآنُ dengan lebih baik melalui konteksnya, tetapi اَلْقُرْآنُ -lah yang mengubah cara kita memandang bagian-bagian dari sejarah tersebut.

Contoh: Surah Al-Kautsar.

سُورَةُ الْكَوْثَرِ adalah surah favorit saya. Ketika Rasulullahﷺ kehilangan seorang anak dan beliau harus mendengar kata-kata yang paling buruk dan mengerikan bahkan kata-kata tersebut diucapkan dari mulut anggota keluarganya sendiri seperti أَبُو لَهَبٍ. Itu adalah masa-masa yang  sangat menyedihkan bagi Rasulullahﷺ; masa di mana ada segala alasan untuk merasa sangat depresi, sedih, dan terluka. Dalam konteks itulah Allah memberinya sebuah surah yang seharusnya mengisinya dengan kegembiraan:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ٢ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ٣

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak [1], Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah mendekatkan diri kepada Allah) [2], Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah) [3].

Dalam surah tersebut, masalah utama —yaitu أَبُو لَهَبٍ orang yang menyakiti perasaan beliau— baru dibahas pada ayat ketiga. Prioritas utamanya adalah merasakan kebahagiaan dan kedamaian karena telah dianugerahi hadiah اَلْكَوْثَرُ dan merayakannya seolah-olah itu adalah hari raya (عِيدٌ), kemudian Shalatlah dan Berkurbanlah. Masalahnya sendiri ditempatkan sebagai item ketiga: "Jangan khawatir tentang orang itu (أَبُو لَهَبٍ), itu sudah diurus." Dengan kata lain, surah yang paling pendek dalam اَلْقُرْآنُ ini mengubah persepsi tentang apa yang sedang terjadi di hadapan beliau. Itulah yang dilakukan اَلْقُرْآنُ; ia mengubah persepsi Anda.

Analogi Media Berita dan Komentator

Saya suka menjelaskannya melalui analogi. Peristiwa terjadi di seluruh dunia dan kita mengetahuinya melalui berita media elektronik, media cetak atau melalui komentar politik dan jurnalistik. Kamera menangkap suatu peristiwa, tetapi para komentator membantu Anda memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi; mereka mengisi celah-celahnya. Dengan cara yang sama, sebuah insiden terjadi dalam kehidupan Sang Utusan Allah, Rasulullahﷺ , dan اَلْقُرْآنُ itu sendiri adalah "komentar" atas peristiwa-peristiwa tersebut. اَلْقُرْآنُ memberikan cahaya tentang bagaimana cara berpikir terhadap peristiwa itu.


Studi Hadits Bukhari: Awal Mula Wahyu

Saat kita mempelajari hadits yang diriwayatkan oleh عائشة بنت أبي بكر الصديق رَضِيَ عنها, kita akan mencoba memahaminya frasa demi frasa. Kita akan mencoba memahami hubungan antara pengalaman Rasulullahﷺ dan bagaimana pembukaan اَلْقُرْآنُ memberikan cahaya pada pengalaman-pengalaman tersebut.

Dalam Riwayat Shahih al-Bukhari pada Kitab بَدْءُ الْوَحْيِ (Permulaan Wahyu). disebutkan:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ.

Hal pertama yang mulai terjadi di luar kebiasaan pada Rasulullahﷺ adalah mimpi-mimpi yang baik dan benar (اَلرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ) yang terus-menerus beliau lihat dalam tidurnya. Beliau terus melihat mimpi yang menenangkan ini; dan itu bukanlah mimpi buruk.

فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ

Fenomena ini mulai terjadi di mana beliau tidak pernah melihat satu pun mimpi kecuali mimpi itu menjadi kenyataan dengan sangat jelas. Frasa مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ berarti "sejelas fajar yang menyingsing". Apa yang beliau lihat dalam mimpi, benar-benar terjadi tepat di depan mata beliau.

ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ

Seiring dengan intensitas pengalaman spiritual ini, rasa cinta untuk menyendiri (اَلْخَلَاءُ) ditanamkan ke dalam diri Rasulullahﷺ. Dinyatakan dalam bentuk pasif (disebabkan / ditanamkan), seolah-olah beliau disuntik dengan keinginan kuat untuk menyendiri. Beliau merasa sangat butuh untuk menyendiri.


Analisis Linguistik Makna تَحَنُّثٌ di Gua Hira

وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ.

Maka beliau biasa menyendiri di Gua Hira (غَارُ حِرَاءٍ), di pinggiran Makkah. Beliau naik ke atas gunung dan bisa melihat kota dari kejauhan. Itu bukanlah tempat yang biasa didatangi orang kecuali jika seseorang ingin benar-benar menyendiri sehingga jauh dari hiruk pikuk keramaian semua orang.

Kata yang digunakan untuk menggambarkan apa yang beliau lakukan di sana sangatlah informatif : فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ (maka beliau melakukan تَحَنَّثُ di dalam Gua Hira). Kata تَحَنُّثٌ memiliki beberapa makna:

  • Menjauhkan diri dari dosa besar :

Kata حِنْثٌ dalam bahasa Arab berarti dosa besar atau berat. تَحَنَّثَ berarti menjauhkan diri dari dosa-dosa besar. Ini mungkin merupakan komentar terhadap fakta bahwa Rasulullahﷺ, ketika berada di Makkah, melihat banyaknya dosa mengerikan terjadi setiap hari. Beliau melihatnya berulang kali dan itu mulai mengganggu beliau hingga beliau ingin memisahkan diri dari masyarakat yang korup dan menjauh dari perilaku kriminal di sekitarnya, baik itu kejahatan spiritual maupun sosial dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

  • Beribadah atau mencari Tuhan:

Beberapa ahli bahasa mengatakan bahwa huruf 'ث' (tsa) dan 'ف' (fa) sering kali dapat saling bertukar dalam bahasa Arab kuno. Maka beberapa ahli menafsirkan يَتَحَنَّثُ فِيهِ sebagai يَتَحَنَّفُ فِيهِ atau يَتَعَبَّدُ فِيهِ. Artinya, beliau hanya ingin menyendiri dan memfokuskan perhatiannya kepada Allah ; beliau pada dasarnya sedang mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan.


Kedalaman Makna تَحَنُّثٌ dan Hubungannya dengan Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ

Salah satu cara memahami kata تَحَنُّثٌ adalah dengan melihat kemiripannya dengan kata تَحَنُّفٌ. Dalam bahasa Arab kuno, huruf 'ث' (tsa) dan 'ف' (fa) terkadang dapat saling bertukar posisi. Jika kita membacanya sebagai تَحَنُّفٌ, maka ini merujuk pada upaya untuk menjadi seorang حَنِيفٌ (pribadi yang lurus dan murni dalam mengesampingkan segalanya demi mencari Tuhan), yang merupakan sifat utama dari Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ.

Ini adalah sudut pandang yang sangat indah, karena menghubungkan Rasulullahﷺ dengan kakek buyut beliau, Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ, yang merupakan pendiri kota Makkah itu sendiri. Makna lain dari تَحَنُّثٌ adalah membasuh dosa-dosa dari diri sendiri dan menenggelamkan diri dalam ibadah. Rasulullahﷺ merasa seolah-olah beliau mulai tercemar oleh lingkungan Makkah yang korup, yang dipenuhi dengan keberadaan أَصْنَامٌ (berhala-berhala) dan berbagai bentuk جَاهِلِيَّةٌ (kebodohan/ketidaktahuan). Beliau ingin menyucikan diri dan melakukan kontemplasi sebaik mungkin, namun beliau tidak dapat menemukan bentuk ibadah yang murni di tengah kota yang sudah rusak tersebut. Itulah sebabnya beliau menyendiri di gua untuk menemukannya.

Masa-masa Penantian di Gua Hira

Dalam hadits disebutkan: وَهُوَ التَّعَبُدُ اللَّيَالِي ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ.

Beliau, Rasulullahﷺ  menghabiskan waktu di sana selama اَللَّيَالِي ذَوَاتِ الْعَدَدِ (malam-malam yang berbilang) secara berturut-turut. Beliau menyendiri di dalam gua tersebut sebelum akhirnya muncul keinginan untuk kembali kepada keluarganya. Saat akan berangkat, beliau membekali diri dengan perbekalan yang cukup untuk menunjang keberadaannya di sana.

ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيْجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا.

Kemudian beliau akan kembali ke Khadijah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, menghabiskan sedikit waktu bersamanya, lalu membungkus perbekalan lagi untuk kembali ke gua selama beberapa hari ke depan. Rasulullahﷺ hanya kembali untuk mengambil stok makanan dan perlengkapan demi bisa bertahan hidup di atas gua, lalu segera naik kembali ke sana.


Datangnya اَلْحَقُّ (Kebenaran) dan Perintah اِقْرَأْ

Kondisi ini terus berlangsung: حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ.

Sampai akhirnya اَلْحَقُّ (Kebenaran) datang kepada beliau saat beliau berada di Gua Hira. Penggunaan istilah اَلْحَقُّ di sini adalah cara عائشة رَضِيَ اللهُ عَنْهَا untuk merujuk pada اَلْقُرْآنُ. Dalam banyak komentar dari para صَحَابَةٌ (sahabat), mereka sering menggunakan kata اَلْقُرْآنُ dan اَلْحَقُّ secara bergantian. Hal ini sangat menunjukkan mentalitas mereka; mereka menyadari bahwa segala hal lain di sekitar mereka adalah kebatilan, sementara اَلْقُرْآنُ datang menembus, meruntuhkan itu semua dan memberikan kejelasan yang luar biasa.

Sebagai seorang muslim, saat mendengar Firman Allah, pikiran kita harus menyingkirkan segala bentuk kritik atau keraguan. Hal pertama yang harus ada di kepala kita adalah: "Ini adalah اَلْحَقُّ (Kebenaran)". Kata اَلْحَقُّ juga memiliki lapisan makna yang berarti "sesuatu yang benar" dan "sesuatu yang seharusnya dilakukan".

فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ: اِقْرَأْ.

Maka datanglah Malaikat (Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ) kepadanya dan berkata, "اِقْرَأْ" (Bacalah). Dalam bahasa Arab, اِقْرَأْ juga bisa berarti "Ikutilah bacaanku". Implikasinya adalah Malaikat tersebut akan membacakan sesuatu dan Rasulullahﷺ diminta untuk mengikuti bacaan tersebut.


Analisis Linguistik:مَا أَنَا بِقَارِئٍ

Rasulullahﷺ menjawab: قَالَ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ.

Sang Utusan ﷺ menjawab, " مَا أَنَا بِقَارِئٍ". Ungkapan ini memiliki beberapa lapisan makna yang penting untuk dipahami secara akurat:

-        "Saya tidak bisa membaca sama sekali".

-        "Saya belum pernah membaca sebelumnya".


Interaksi Fisik: Pelukan Sang Malaikat

Melihat jawaban itu, Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ melakukan pendekatan secara fisik yang luar biasa: فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي.

Beliau menceritakan, "Maka dia (Jibril) memegangku dan memelukku / menyelimutiku (mendekap dengan sangat kuat) sampai aku merasa sangat lelah dan kehabisan tenaga, kemudian dia melepaskanku". Beberapa ulama mengomentari bahwa ini adalah interaksi "hati ke hati" di mana terjadi semacam transfer energi atau spiritualitas saat dada mereka saling menempel sangat kuat.

Setelah dilepaskan, malaikat itu berkata lagi, "اِقْرَأْ" (Bacalah). Rasulullahﷺ tetap menjawab, "مَا أَنَا بِقَارِئٍ" (Aku tidak bisa membaca/bukan pembaca). Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ kembali memegang dan mendekap beliau untuk kedua kalinya sampai Rasulullahﷺ merasa tidak sanggup lagi menahan kuatnya dekapan itu, lalu melepaskannya lagi. Hal yang sama terulang untuk ketiga kalinya.


Turunnya Wahyu Pertama

Setelah dekapan ketiga, barulah Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ membacakan wahyu:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ١خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِنْ عَلَقٍ٢ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ٣ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلْإِنسَـٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.".

Meskipun secara keseluruhan wahyu yang turun adalah hingga ayat kelima, namun dalam narasi hadits ini, fokusnya adalah pada ayat-ayat pembuka tersebut. Sama halnya ketika seseorang merujuk pada sebuah surah, mereka seringkali hanya menyebutkan bagian awalnya saja sebagai referensi untuk keseluruhan pesan yang disampaikan.


Guncangan Spiritual: يَرْجُفُ فُؤَادُهُ

Setelah menerima kata-kata tersebut, Rasulullahﷺ pulang dengan kondisi fisik dan mental yang terguncang: فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ.

Rasulullahﷺ  kembali pulang kerumahnya dengan membawa wahyu tersebut dalam keadaan jantung hatinya berdegup sangat kencang atau bergetar hebat (يَرْجُفُ فُؤَادُهُ). Istilah فُؤَادٌ digunakan untuk menggambarkan kondisi jantung atau hati saat seseorang sedang sangat terguncang. Hati beliau yang terguncang itu berdebar-debar dan dadanya terasa sesak dan berdetak sangat keras.

فَدَخَلَ عَلَى خَدِيْجَةَ ابْنَةِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا فَقَالَ: زَمِّلُونِي، زَمِّلُونِي.

Beliau masuk ke rumah dan menemui Khadijah binti Khuwailid رَضِيَ اللهُ عَنْهَا seraya berseru, "زَمِّلُونِي، زَمِّلُونِي" (Selimuti aku, selimuti aku!). Beliau menggigil dan hanya ingin ditutupi dengan selimut.

فَزَمَّلُوْهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ

Maka mereka (Khadijah dan keluarganya) menyelimuti beliau sampai rasa ngeri, keterkejutan, dan ketakutan (اَلرَّوْعُ) atas apa yang baru saja dialaminya mulai mereda sedikit demi sedikit.


Ketakutan Manusiawi dan Peneguhan Hati dari Khadijahرَضِيَ اللهُ عَنْهَا

Setelah Rasulullahﷺ ditenangkan dengan selimut, beliau mulai berbicara kepada Khadijah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا dan menceritakan apa yang telah terjadi. Beliau ﷺ bersabda:

لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي

"Sungguh, aku sangat mengkhawatirkan diriku sendiri." Beliau merasa sangat ketakutan dan tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Namun, Khadijah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا menjawab dengan penuh keyakinan:

كَلَّا، وَاللهِ مَا يُخْزِيكَ اللهُ أَبَدًا

"Tidak, demi Allah! Allah tidak akan pernah menghinakanmu."

Sangat luar biasa untuk direnungkan: sosok (Rasulullahﷺ) yang nantinya akan memberikan penghiburan dan bimbingan bagi seluruh umat manusia, pada saat itu justru sedang dihibur dan ditenangkan oleh istrinya sendiri, Khadijah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا. Beliau adalah sumber ketenangan (سَكِينَةٌ) yang nyata bagi Rasulullahﷺ.


Penampakan Malaikat Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ di Cakrawala (اَلأُفُقُ الْمُبِينُ)

Perlu kita pahami bahwa pengalaman tersebut sangatlah berat. Selain dekapan kuat di dalam gua, saat menuruni gunung, Rasulullahﷺ mendongak ke arah langit dan melihat Malaikat Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ dalam wujud aslinya. Sebagaimana disebutkan dalam اَلْقُرْآنُ:

لَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ

"Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang." (QS 081_At-Takwir : 23)

Rasulullahﷺ tidak bisa melihat langit karena seluruh cakrawala tertutup oleh sosok Malaikat Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ. Bayangkan seorang manusia mengalami hal sehebat itu; reaksi pertamanya tentunya adalah keraguan terhadap kewarasan dirinya sendiri. Itulah sebabnya salah satu wahyu awal diturunkan untuk meneguhkan hati beliau:

نٓ ۚ وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ ١ مَآ أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ ٢

"Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, engkau (Muhammad) bukanlah seorang yang gila (مَجْنُونٌ)." (QS 068_Al-Qalam 1-2)

Wahyu ini menegaskan bahwa apa yang dialami beliau benar-benar nyata, bukan ilusi atau kegilaan. Bahkan dalam surat lain disebutkan:

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ ٢٨٥

Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya." Dan mereka berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali." (QS 002_Al-Baqarah : 285)

Ayat ini menunjukkan bahwa Sang Utusan ﷺ sendiri harus melalui "perjalanan iman" untuk memercayai sepenuhnya apa yang sedang terjadi pada dirinya dan apa yang diturunkan kepadanya, barulah kemudian diikuti oleh kaum Mukminin.


Karakter MuliaRasulullahﷺsebagai Landasan Perlindungan Allah

Khadijah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا memberikan alasan-alasan logis dan spiritual mengapa Allah tidak akan mungkin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Rasulullahﷺ. Beliau menyebutkan karakter-karakter utama Rasulullahﷺ:

1.    Menjaga Tali Silaturahmi (تَصِلُ الرَّحِمَ)

Khadijah berkata, "Engkau adalah orang yang selalu menyambung tali persaudaraan (تَصِلُ الرَّحِمَ)." Menjaga hubungan keluarga mungkin terdengar mudah bagi sebagian orang, namun bagi Rasulullahﷺ, anggota keluarganya mencakup orang-orang sulit seperti أَبُو لَهَبٍ dan أَبُو جَهْلٍ. Sangat sulit untuk tetap bersikap baik dan menjaga hubungan dengan kerabat yang memiliki karakter keras dan buruk, namun Rasulullahﷺ tetap melakukannya dengan penuh kehormatan (كَرَمٌ).

2.    Membantu Orang yang Kesulitan (تَحْمِلُ الْكَلَّ)

Engkau memikul beban orang yang lemah (تَحْمِلُ الْكَلَّ). Istilah اَلْكَلُّ merujuk pada seseorang yang tidak memiliki siapa-siapa atau tidak memiliki apa-apa; orang yang terisolasi secara sosial, tidak punya teman, dan tidak dikenal oleh siapapun. Rasulullahﷺ mencari orang-orang seperti ini—yang seringkali diabaikan oleh masyarakat—dan membantu memikul beban hidup mereka.

3.    Memberdayakan yang Lemah (تَكْسِبُ الْمَعْدُومَ)

Ada dua makna mendalam dari frasa ini:

·         Integritas dalam Bisnis: Engkau mampu menghasilkan keuntungan yang tidak bisa dihasilkan orang lain karena kepiawaianmu dalam berbisnis dan berjejaring, namun engkau tetap peduli pada keluarga dan orang lain. Biasanya, orang yang sangat sukses dalam bisnis cenderung mengabaikan keluarga, namun Rasulullahﷺ memiliki kombinasi unik antara kesuksesan profesional dan kasih sayang yang luar biasa.

·         Pemberdayaan Sosial: Engkau bekerja keras untuk membantu dan memberdayakan orang-orang yang terpinggirkan (اَلْمَعْدُوْمُ)—mereka yang tidak memiliki pekerjaan atau kesempatan —agar mereka bisa kembali mandiri dalam masyarakat.

4.    Memuliakan Tamu (تَقْرِي الضَّيْفَ)

Engkau selalu memuliakan tamu (تَقْرِي الضَّيْفَ). Di tengah kesibukan bisnis dan kegiatan kemanusiaannya, Rasulullahﷺ tidak pernah menunjukkan rasa tidak suka atau terburu-buru saat ada tamu yang datang. Beliau tidak pernah terus-menerus melihat jam atau teralihkan oleh hal lain; beliau memberikan perhatian penuh dan keramahan terbaik kepada setiap tamu.


Sifat Mulia Rasulullahﷺ : Keramahan dan Pertolongan dalam Kebenaran

Melanjutkan sifat mulia yang disebutkan oleh Khadijah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, beliau menekankan betapa santunnya Rasulullahﷺ  kepada para tamu. Orang-orang seringkali memaksakan diri untuk bertamu, namun beliau tetap membiarkan mereka dan menyambut mereka dengan sangat baik.

Bahkan setelah beliau diangkat menjadi Utusan Allah ﷺ, para صَحَابَةٌ (sahabat) seringkali menghabiskan waktu begitu lama di kediaman beliau karena tidak ingin meninggalkan kebersamaan dengan beliau. Meskipun hari sudah larut malam, beliau ﷺ tidak pernah mengatakan, "Teman-teman, saya sudah lelah, biarkan saya beristirahat," atau "Keluarga saya butuh waktu." Beliau terlalu santun untuk mengatakannya. Saking santunnya beliau, Allah sampai menurunkan wahyu dalam اَلْقُرْآنُ (Surah Al-Ahzab: 53) :

QS. Al-Ahzaab · ayat 53

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَـٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَـٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَـٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا ﴿٥٣﴾

53. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.

Teks: Tanzil.net · Terjemahan: Kemenag RI

ini adalah ayat untuk memberitahu para sahabat agar segera pulang setelah selesai makan dan tidak berlama-lama karena hal itu mengganggu Rasulullahﷺ, namun beliau malu untuk mengatakannya. Subhanallah, Allah-lah yang harus mengatakannya demi beliau.

Sifat selanjutnya adalah: وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

Artinya, engkau selalu hadir untuk membantu siapa saja yang membutuhkan pemenuhan hak-haknya. Engkau melibatkan dirimu dalam setiap tujuan yang benar yang engkau temukan. Seolah-olah engkau sudah terlibat dalam begitu banyak amal kebajikan, namun ketika ada kesempatan baru untuk berbuat baik, engkaulah orang pertama yang mengantre untuk melakukannya. Itulah gambaran karakter Rasulullahﷺ dari lisan istrinya sendiri—sebuah deskripsi paling akurat yang pernah ada.


Kedalaman dan Keteguhan Iman Khadijahرَضِيَ اللهُ عَنْهَا

Khadijah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا menunjukkan kepercayaan diri yang luar biasa. Meskipun saat itu beliau belum sepenuhnya memahami apa itu اَلْقُرْآنُ secara utuh, beliau sudah memiliki اَلْفِطْرَةُ (fitrah) atau sifat dasar manusia yang murni. Beliau memiliki harapan kepada Allah bahwa jika seseorang berbuat baik kepada makhluk Allah, maka Allah pasti akan berbuat baik kepadanya. Ini adalah formula yang muncul secara alami dalam dirinya bahkan sebelum bimbingan wahyu datang sepenuhnya.

Menariknya, Rasulullahﷺ yang sebelumnya menjawab "مَا أَنَا بِقَارِئٍ" (Aku bukan pembaca / aku tidak bisa membaca), setelah didekap oleh Jibril dan menerima wahyu, beliau langsung menjadi seorang حَافِظٌ (penghafal). Beliau turun dari gunung dan langsung membacakan ayat-ayat tersebut kepada sang Istri tercinta Khadijah dengan sempurna, tanpa perlu mengulang atau bertanya kembali. Allah menjadikannya pembaca sejati sejak awal.

إِنْ شَاءَ ٱللَّٰهُ, bersambung,
Khadijah kemudian membawa Rasulullahﷺmenemui sepupunya ................